Klaim Beasiswa Dipertanyakan, Humas PT GMM Mahdi M. Nur Layak Dievaluasi
HALMAHERA SELATAN — Pernyataan Humas PT Gelora Mandiri Membangun (PT GMM), Mahdi M. Nur, terkait penyaluran beasiswa kepada mahasiswa di Kecamatan Gane Barat Selatan patut dipertanyakan secara serius. Pasalnya, sejumlah mahasiswa dari Desa Kurunga wilayah yang berada di sekitar operasional perusahaan mengaku tidak pernah menerima bantuan sebagaimana yang diklaim telah disalurkan.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada media, Mahdi M. Nur menyebut bahwa pada tahun 2024 terdapat 40 mahasiswa dari berbagai desa, termasuk Kurunga, yang menerima beasiswa sebesar Rp1.500.000 per orang dan bulan november 2025 naik sebesar 2.000.000 Bantuan tersebut bahkan disebut diserahkan langsung kepada orang tua atau wali mahasiswa.
Namun, fakta di lapangan justru menimbulkan tanda tanya besar. Beberapa mahasiswa asal Desa Kurunga yang sedang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi menyatakan tidak pernah menerima bantuan tersebut. Mereka bahkan mengaku tidak mengetahui adanya program penyaluran beasiswa seperti yang disampaikan oleh pihak perusahaan.
Kondisi ini menimbulkan dua kemungkinan serius:
pertama, program tersebut tidak benar-benar berjalan sebagaimana yang diklaim, atau kedua, terdapat persoalan transparansi dan akuntabilitas dalam proses penyalurannya.
Jika klaim Humas PT GMM tidak didukung dengan data penerima yang jelas, maka pernyataan tersebut berpotensi menyesatkan publik. Dalam konteks komunikasi perusahaan, hal seperti ini bukan sekadar kesalahan kecil. Informasi yang disampaikan kepada media seharusnya berbasis pada data yang valid, dapat diverifikasi, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Sebagai pejabat yang bertugas menjaga kredibilitas perusahaan di hadapan publik, Mahdi M. Nur seharusnya memastikan setiap informasi yang disampaikan benar-benar akurat. Apalagi, program beasiswa merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan yang menyangkut masa depan pendidikan generasi muda di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Ironisnya, Desa Kurunga sendiri merupakan salah satu desa yang berada dekat dengan aktivitas perusahaan PT GMM. Jika benar mahasiswa dari desa tersebut tidak menerima bantuan sebagaimana yang diklaim, maka hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi yang disampaikan kepada publik dengan realitas yang dirasakan masyarakat.
Situasi ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Kredibilitas perusahaan dipertaruhkan ketika informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Karena itu, manajemen PT GMM perlu segera melakukan evaluasi internal secara serius terhadap kinerja dan pernyataan Humasnya.
Evaluasi ini penting bukan hanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam program beasiswa tersebut, tetapi juga untuk memastikan bahwa komunikasi perusahaan kepada publik tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bahkan ketidakpercayaan masyarakat.
Jika terbukti bahwa informasi yang disampaikan kepada media tidak akurat atau tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka perusahaan perlu mengambil langkah tegas. Pergantian atau pencopotan pejabat yang bertanggung jawab atas penyampaian informasi tersebut menjadi langkah yang patut dipertimbangkan demi menjaga integritas perusahaan di mata masyarakat.
Bagi masyarakat Gane Barat Selatan, terutama para mahasiswa dari desa-desa sekitar perusahaan, program beasiswa bukan sekadar angka dalam laporan kegiatan sosial perusahaan. Bantuan tersebut adalah harapan nyata bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan dan memperbaiki masa depan.
Karena itu, publik kini menunggu sikap tegas dari manajemen PT GMM:
membuka data penerima beasiswa secara transparan, menjelaskan mekanisme penyalurannya, dan mengevaluasi pihak yang bertanggung jawab atas informasi yang telah beredar di ruang publik.
Tanpa langkah tersebut, klaim tentang program beasiswa yang disebut menjangkau puluhan mahasiswa hanya akan menjadi cerita yang indah di atas kertas, tetapi kosong bagi mereka yang seharusnya menjadi penerimanya.
Tim Redaksi Mandiolinews




