KONTRAKTOR BILI TEODORUS DISOROT: GALIAN WAYAUA DIDUGA TAK BERIZIN, MATERIAL MENGALIR KE PROYEK BIBINOI, WARGA TERIAK LINGKUNGAN TERANCAM
HALMAHERA SELATAN — Aktivitas galian timbunan di Desa Wayaua, Kecamatan Bacan Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, yang diduga dikelola oleh kontraktor Bili Teodorus, menuai protes keras dari warga.
Kegiatan tersebut dipersoalkan karena diduga belum mengantongi izin resmi, sementara material hasil galian disebut-sebut digunakan untuk proyek konstruksi di desa lain. Senin (26/01/2026).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, material timbunan dari Wayaua diduga dipasok ke proyek pembangunan di Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah.
Proyek itu disebut masih berada dalam lingkup pekerjaan kontraktor yang sama. Dugaan keterkaitan antara lokasi galian dan proyek pembangunan ini memicu sorotan warga karena dinilai berpotensi menabrak aturan perizinan.
Masyarakat setempat khawatir aktivitas penggalian di sekitar aliran sungai akan berdampak serius terhadap lingkungan. Kerusakan ekosistem hingga ancaman banjir menjadi kekhawatiran utama.
“Kalau penggalian terus dilakukan, sungai bisa rusak. Kami takut nanti banjir meluap,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Selain isu lingkungan, penggunaan material yang diduga berasal dari aktivitas tanpa izin juga dinilai mencederai prinsip kepatuhan hukum dalam pelaksanaan proyek pembangunan.
Warga menilai, praktik tersebut tidak hanya merugikan alam, tetapi juga berpotensi melanggar ketentuan hukum yang berlaku.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan instansi teknis terkait segera turun tangan melakukan pemeriksaan lapangan. Mereka meminta legalitas aktivitas galian di Wayaua diperiksa, termasuk asal-usul material yang digunakan dalam proyek di Bibinoi.
“Kami harap pihak berwenang turun langsung ke lokasi, cek izin galian dan periksa material yang dibawa ke Bibinoi,” tambah sumber tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor Bili Teodorus belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media masih belum mendapat tanggapan. Pemerintah daerah juga belum menyampaikan pernyataan terkait dugaan aktivitas tersebut.
Tim redaksi Mandiolinews





